Wajah Itu

Aku terdiam sambil berkali-kali mengetuk-ngetukkan jari tejulunjuk pada kursi. Ya, itu adalah salah satu kebiasaan burukku yang seperti candu ketika sedang termenung. Saat ini aku duduk atas sebuah kursi ban yang ada di halaman rumah. Entah apa alasannya kursi tua yang masih layak pakai ini di letakkan disini, yang pasti menurutku kurang tepat karena dari tempat kursi ini berada, sungguh tidak ada sesuatu yang elok di pandang mata di depan sana. Hanya ada sebatang pohon pepaya dengan tiga buah yang menggelantung, tapi tak matang-matang. Aku melihatnya telah lama sekali, tapi masih saja buah-buah pepaya itu tak berubah warna, hijau. Di tengah kesunyian itu, tiba-tiba sebuah wajah masa lalu terlintas jelas dalam pandangan dan membawaku kembali pada ingatan 15 silam. Aku pun tersenyum, lalu beranjak meninggalkan kursi ban itu.

Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s