LUKA!

Sepiring makanan di hadapanku terasa sulit untuk disuapkan ke mulut. Aku terdiam mendengar komentar-komentar sarkastis dari mulut-mulut di sekelilingku. Sesekali mereka berbicara dalam bahasa daerah yang tidak terlalu ku mengerti, sambil menyebut namaku dan tempat tinggal orang tuaku saat ini.

Perlahan kedua mataku mulai berair, napasku sedikit tertahan, seperti ada sesuatu yang mengganjal di dalam dada. Sebuah luka batin yang berusaha ku sembuhkan selama bertahun-tahun, sejak aku masih anak-anak. Perlahan ku belajar berdamai dan memaafkan apa yang pernah terjadi, dengan mencoba untuk melupakan semuanya. Namun malam ini, semua komentar-komentar itu seperti kaset yang berulangkali diputar, membawaku kembali pada masa suram yang menggoreskan luka-luka batin. Air mataku semakin tak tertahankan. Namun, seketika aku teringat pesan Papa bahwa pamali menangis di hadapan makanan. Cepat kuhapus air mata dengan telapak tangan sambil menunduk, “tak boleh mengalir terus-menerus air mata lemah ini” bisikku

Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s