Gelap#1

Subuh yang tak indah aku bangun dengan perasaan absurd. Kejadian semalam masih terngiang-ngiang di kepalaku. Sesekali nafasku terasa sulit diangkat, dan mata terasa berat seperti akan menyemburkan cairan.

Subuh ini sengaja kutuliskan keresahan yang menimpaku sebagai memori kenangan apabila aku bisa sembuh, terlepas, terbebas dari cekaman diriku sendiri. Entah kapan, tak ada yang tahu, tapi aku terus berusaha memperbaiki kesehatan mentalku agar bisa tenang dan hidup normal seperti orang pada umumnya.

Langsung saja..

Cerita ini bermula saat seorang temanku mengajak untuk berdiskusi melalui bantuan google meet. Ya, karena keadaan sekarang masih dalam kondisi wabah jadilah kami hanya melalukan kuliah daring sesuai kebijakan pemerintah.

Sebenarnya aku berat menerima ajakan itu mengingat kondisi kecemasanku sedang tidak stabil setelah mengikuti rapat angkatan. Yah, hanya melalui online saja tapi cukup mengganggu kecemasanku. Namun karena ini adalah tugas kelompok, jadi wajiblah aku ikut menyertakan diri.

Belum lagi alamat link itu tampak di layar chat, aku sudah merasakan jantungku yang berdetak tidak normal, pori-poriku mulai berair, dingin dan kaku. Semakin sering aku meyakinkan dan membujuk diri agar tenang, berkata pelan bahwa nothing will happen, tapi semakin itu pula ketakutan menggelapkanku, membuyarkan fokusku, membungkam mulutku tak mampu bersuara.

Diujung sana terdengar suara kedua temanku yang terus memanggil-manggil

“Tim menurut kamu ini gimana?”

“Tim?”

“Tim?”

“Tim.. Faatimmm?”

Sampai akhirnya mereka menyimpulkan bahwa mungkin jaringanku sedang bermasalah. Tapi nyatanya tidak, dari sini aku bisa mendengar suara mereka dengan jelas, tak putus-putus, tak ada masalah sama sekali. Masalahnya ada pada diriku, yang sedari awal sudah keringat dingin, gemetar seperti orang yang dikejar penjahat. Aku tidak tahu berkata apa, mulutku benar-benar bungkam, jemariku lemas, keringat mulai bercucuran, dan air mata yang perlahan menetes.

Aku duduk tak kuasa menahan tangis. Ingin rasanya ku berteriak pada diriku, ingin rasanya keberikan hukuman. Tapi aku benar-benar tak berdaya, hanya air mata yang terus mengalir. Aku bingung ada masalah apa dengan diriku?

Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s