Di Suatu Jalan Ketika Mentari Perlahan Tidur

Di persimpang jalan, kita berjalan perlahan. Sengaja mengulur waktu untuk berpikir ke arah mana kaki harus melangkah. Ini bukan simpang jalan yang pertama yang kita lewati setelah perjalanan panjang, tapi tetap saja kita masih kebingungan untuk memilih arah tiap kali bertemu jalan yang bercabang. Namun kita masih terus melangkah, tak jelas memang kemana arah tujuan. Di pinggir-pinggir jalan terlihat orang yang memperhatikan.

“Kita kemana? Tanyamu sebagai leader setiap kali kita bertemu jalan bercabang.

“Belok kiri!” Jawab seorang di antara kita dengan nada tegas dan meyakinkannya.

Kita pun lanjut berjalan, dua orang di antara kita sesekali berhenti, lalu memotret apa saja yang menurutnya menarik.

“Hei, lihat!” Tunjukmu pada matahari yang mulai berwarna oranye.

Lagi-lagi dua orang di antara kita itu lari, berlomba mencari posisi terbaik untuk memotret mentari yang kau tunjukkan, demi memuaskan hati mereka.

Masih terus melangkah, menyusuri jalan yang perlahan sepi dan menggelap. Aku tak mampu lagi untuk kita jalan bersama. Bukanku lelah, bukanku menyerah. Tapi aku hanya mentari, waktuku hanya sebatas untuk siang, menemui dan menyinari langkah siapa yang siap berjuang. Sampai jumpa di hari esok.